<
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Datangi asrama mahasiswa Papua di Surabaya, aparat keamanan diduga lakukan pelecehan seksual
  • Sabtu, 07 Juli 2018 — 18:10
  • 4649x views

Datangi asrama mahasiswa Papua di Surabaya, aparat keamanan diduga lakukan pelecehan seksual

Negosiasi sedang dilakukan saat insiden operasi yustisi di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya - IST
◕‿◕“Saya dan Isabela diseret sampai kancing juga lepas dan mau dimasukkan ke salah satu mobil aparat. Sedangkan Anindya dipegang dadanya,” kisahnya.◕‿◕

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Nabire, Jubi – Kembali lagi terjadi tidakan tidak terpuji di salah satu asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jumat, (6/7/2018). Sebelumnya, hal serupa terjadi di asrama mahasiswa di Malang beberapa waktu lalu.

Pengacara Publik LBH Surabaya, Mohamad Saleh saat dihubungi Jubi mengatakan Aliansi Mahasiswa Papua di Surabaya saat itu sedang mengadakan diskusi mingguan di Asrama Mahasiswa Papua yang terletak di Jalan Kalasan No. 10 Tambaksari, Surabaya sekitar pukul 20.30 WIB.

Tiba – tiba datanglah rombongan Camat Tambaksari bersama ratusan anggota  Kepolian, TNI dan Satpol PP kota Surabaya dengan dalih sedang melaksanakan operasi yustisi ke asrama tersebut.

Jumlah aparat pada saat mencapai 50 orang yang terdiri dari Satpol PP dan TNI.

“Mereka datang saat mahasiswa sedang melaksnakan diskusi mingguan,” ujarnya.

Lanjut Saleh, kemudian dua orang mahasiswa peserta diskusi dan salah satu pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya menanyakan Surat Perintah/Surat Tugas kepada Camat Tambaksari. Tetapi,  Camat Tambaksari tidak bisa menunjukkan surat yang dimaksud.

“Kedua mahasiswa, Isabella dan Anindya berusaha untuk berdialog damai dengan pihak camat, namun salah seorang anggota polisi meneriaki Anindya dengan kata-kata kasar, di situ situasi mulai memanas,” lanjutnya.

Masih dikisahkan oleh Saleh, Isabella dan pengacara publik LBH Surabaya diseret oleh aparat kepolisian sedangkan Anindya juga dilecehkan oleh oknum aparat kepolisian, dadanya dipegang dan kemudian diseret beramai-ramai oleh aparat.

“Saya dan Isabela diseret sampai kancing juga lepas dan mau dimasukkan ke salah satu mobil aparat. Sedangkan Anindya dipegang dadanya,” kisahnya.

Legislator Papua, Jhon Gobai dihubungi terpisah menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya, seharusnya bila melakukan operasi yustisi harus membawa surat perintah tugas.

“Saya sangat menyayangkan tindakan tersebut. Kenapa petugas tidak membawa surat tugas atau surat perintah. Selain itu, pegang dada perempuan lagi,” tuturnya.

Kata Jhon, aparat  keamanan sepertinya sangat dendan terhadap Orang Papua, terutama anak – anak Papua yang sedang melaksanakan study di pulau jawa. Bahkan kata dia, masyarakatpun ikut mendendam seperti yang terjadi di Malang.

“Ini ada apa sebenarnya. Saya minta Kapolri untuk mengevaluasi kinerja bawahannya. Jangan hanya omong di atas baik, tetapi kinerja anak buah di lapangan lain,” katanya. (*)

Reporter :Titus Ruban
Editor : Victor Mambor
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

PKK jadi penopang utama kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan

Selanjutnya

Pertamina buka Rumah Pintar untuk anak buta aksara dan putus sekolah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua