<
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Inggris akan kembali aktif di Pasifik
  • Kamis, 26 April 2018 — 15:47
  • 1123x views

Inggris akan kembali aktif di Pasifik

Raja Tonga, Taufa ahau Tupou lV, dan Ratu Halaevalu Mata aho Ahomee saat bertemu Ratu Elizabeth ll dan Pangeran Philip di Tonga pada 1977. - Lowy Institute/v Anwar Hussein Collection/Getty.
◕‿◕Kekhawatiran telah bermunculan di berbagai ibu kota negara di seluruh dunia, bahwa hubungan antara kawasan Pasifik dengan Tiongkok semakin erat.◕‿◕

Papua No. 1 News Portal | Jubi
 

Oleh Cleo Paskal

Minggu lalu, Inggris mengumumkan rencana mereka untuk membuka perwakilan diplomatik di sembilan negara: Lesotho, Swaziland, Bahama, Antigua dan Barbuda, Grenada, Saint Vincent & the Grenadines, Samoa, Tonga, dan Vanuatu. Dari perspektif Pasifik, pembukaan pos ini berpotensi membawa perubahan signifikan.

Kekhawatiran telah bermunculan di berbagai ibu kota negara di seluruh dunia, bahwa hubungan antara kawasan Pasifik dengan Tiongkok semakin erat.

Beberapa analis politik mengatakan bahwa politisi di Australia dan Selandia Baru, dua negara Barat besar di daerah ini yang ditugasi untuk memelihara strategi diplomasi di kawasan itu, telah memprioritaskan agenda ekonomi domestik mereka yang sempit di atas kepentingan kesejahteraan dan keamanan regional, secara tidak sengaja membuka pintu untuk Beijing dan memicu kekhawatiran dari sisi komunitas pertahanan dan badan intelijen.

Pembukaan pos-pos diplomatik ini tampaknya dipercepat setelah program Bantuan Selandia Baru diintegrasikan ke bawah Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan negara tersebut di 2009, dan bantuan Badan Kerja Sama Pembangunan Internasional Australia dipindahkan ke bawah kendali Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia pada 2013.

Selain kedua program bantuan itu, sejumlah dana bantuan juga mulai lebih terkait dengan keuntungan ekonomi Selandia Baru dan Australia, bukan dengan menciptakan keamanan domestik di Pasifik.

Contohnya, sejumlah besar program bantuan Australia dan Selandia Baru telah dialokasikan untuk menyelaraskan sistem hukum dari negara-negara penandatangan perjanjian perdagangan bebas PACER Plus, meskipun kenyataannya kesepakatan itu telah memecahbelah Pasifik dan dinilai hanya membawa sedikit keuntungan bagi negara-negara Pasifik, negara-negara yang sebelumnya sudah memiliki pengaturan kuota-bebas dan tarif-bebas ke pasar Australia dan Selandia Baru melalui Perjanjian Kerja Sama Perdagangan dan Ekonomi Regional Pasifik Selatan.

PACER Plus dirancang untuk memastikan keberlanjutan posisi ekonomi Australia dan Selandia Baru yang unggul di kawasan ini. Seorang analisis kepentingan nasional Pemerintah Selandia Baru menjelaskan bahwa kesepakatan itu akan membantu Selandia Baru dalam nmempertahankan posisinya di hadapan pesaing-pesaing besar dari luar kawasan itu untuk tahun-tahun mendatang. Salah satu "pesaing" ini adalah Inggris.

Fokus seperti ini, yang mencoba untuk mengamankan potongan kue ekonomi sebesar mungkin, bahkan jika potongan itu meninggalkan kue yang jauh lebih kecil, telah memincangkan ekonomi regional dan membuat negara-negara Pasifik untuk lebih terbuka dalam menyambut keterlibatan Tiongkok.

Kedatangan Tiongkok telah mengakibatkan kerugian untuk negara Barat, bukan hanya dari segi melemahkan pengaruh politik Canberra dan Wellington, tetapi juga, pada akhirnya, dari pengaruh ekonomi. Perjanjian PACER Plus tidak menguntungkan negara manapun kecuali Tiongkok, negara yang sama sekali tidak terlibat dalam penandatangannya.

Baru-baru ini beredar laporan, yang sejak itu telah dibantah oleh pihak-pihak berkepentingan, bahwa Tiongkok tertarik untuk membuka “pangkalan angkatan laut” di Vanuatu. Berita burung yang standar mengingat Tiongkok telah membantu perbaikan pelabuhan laut di negara tersebut. Selain itu ada juga berita yang beredar tentang pembangunan pelabuhan di Samoa, dan slipway untuk galangan kapal di Tonga.

Proyek-proyek seperti ini biasanya ditunjukkan sebagai proyek perdagangan dan komersial, namun muncul kekhawatiran bahwa pelabuhan-pelabuhan itu bisa jadi memiliki tujuan ganda (komersial dan militer).

Selain itu, karena kecenderungan Tiongkok yang sering ketahuan mengekspor korupsi dalam negeri mereka, ada kemungkinan semua pelabuhan ini memiliki tiga tujuan (komersial, militer, dan kriminal), dan berfungsi sebagai jalur untuk memindahkan narkoba dan perdagangan manusia.

Namun, akibat bantahan Vanuatu, berbagai pertanyaan justru bermunculan tentang bagaimana narasi itu bisa diketahui media. Oleh karena itu, akan lebih baik bagi negara Barat untuk menambah satu pasang mata lagi, contohnya Inggris, yang dapat membantu menganalisis situasi ini.

Masuklah Inggris. Di era pasca-Brexit, Inggris akan berusaha untuk membuat dirinya nampak lebih berharga bagi berbagai mitranya. Satu bidang yang telah dikuasai Inggris adalah intelijen dan analisis strategi. Dua misi diplomatik Inggris yang akan dibuka kembali, di Tonga dan Vanuatu, baru saja ditutup pada tahun 2006.

Inggris juga sudah memiliki perwakilan di Fiji, Kepulauan Solomon, dan Papua Nugini. Dengan enam pos di Pasifik Selatan, setelah pembukaan kembali Tonga dan Vanuatu, Inggris akan memiliki koneksi yang lebih baik di wilayah tersebut daripada AS, Prancis, Jerman, India, atau semua negara lainnya kecuali Australia, Selandia Baru, Jepang, Taiwan, dan Tiongkok.

Di kawasan ini, Inggris dipandang sebagai mitra yang ramah dan aktif. Warga negara Tonga, Samoa, dan ni-Vanuatu dapat diberikan visa kunjungan enam bulan pada saat kedatangan untuk memasuki Inggris, tidak seperti proses mahal dan berat yang harus mereka lalui untuk mengunjungi Australia atau Selandia Baru.

Di Inggris, Raja Tonga memiliki status diplomatik yang lebih tinggi dibandingkan politisi Australia atau Selandia Baru. Hubungan dari beberapa generasi antara pemimpin tradisional di Pasifik dan bangsawan dan pemimpin lain di Inggris menghasilkan kepercayaan permanen yang dibangun sejak lama.

Selain itu, dengan karena Persemakmuran Commonwealth sendiri telah menunjukkan diri sebagai pemimpin dalam bidang lingkungan (terutama sekarang di bawah Pangeran Charles), Inggris dipandang sebagai teman yang akan lebih mengganggap serius keprihatinan negara-negara kepulauan kecil, termasuk negara Kepulauan Pasifik, seperti yang sudah terjadi ketika Inggris membawa masalah perubahan iklim ke Dewan Keamanan PBB.

London juga kemungkinan akan kembali terlibat dengan bantuan bilateral secara langsung, berdasarkan informasikan setelah penilaian dalam negara di mana pos-pos mereka berada.

Jika para pemimpin Pasifik merasa bahwa kekhawatiran mereka benar-benar didengarkan, mereka akan lebih terbuka. Ini berarti strategi pembukaan pos baru Inggris mungkin adalah salah satu langkah berharga yang sangat strategis, dan dapat membuka wawasan langsung ke dalam isu-isu seperti pembukaan pangkalan militer di Vanuatu. (The Interpreter by Lowy Institute)

Reporter :Elisabeth Giay
Editor : Galuwo
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Enam gunung berapi aktif di Vanuatu

Selanjutnya

Vanuatu perdebatkan hukuman mati

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua