<
Show/Hide
  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Penganan berbahan sagu butuh perhatian
  • Sabtu, 21 April 2018 — 10:51
  • 1243x views

Penganan berbahan sagu butuh perhatian

Nur Zahit (kanan) bersama karyawannya sedang membuat kue sagu – Jubi/ Yance Wenda
◕‿◕Sagu bakar tradisional olahan mama Papua diminati, sayang tidak banyak yang menjadikannya usaha. Sagu juga dijadikan usaha kue sagu yang dipasok ke toko-toko di Jayapura.◕‿◕

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

SETIAP budaya memiliki ciri khas dalam mengonsumsi makanan pokok. Di Papua, masyarakat yang tinggal di pesisir mengenal sagu sebagai salah satu makanan pokok. Sedangkan di pengunungan, suku Dani dan Lani memiliki makanan pokok ubi yang mereka namakan “Mbi” dan “Hipere”.

Tanah Tabi dikenal dengan hutan sagu yang besar dan kaya. Di pinggiran Danau Sentani berjejer pohon sagu. Mama-mama Papua di Sentani terkenal mahir mengolah sagu menjadi sagu bakar dengan berbagai rasa yang enak.

Yakomina Yoku, perempuan asal Sentani mengisahkan bagaimana ia mengolah sagu untuk konsumsi keluarga.

“Saya mulai membuat sagu bakar sejak berkeluarga. Ini sudah menjadi tradisi kami. Kalau pagi kami tidak bikin kue, tapi bikin sagu bakar untuk sarapan pagi,” katanya ketika ditemui Jubi di Pasar Phaara, Sentani.

Seperti diajarkan mamanya, sagu dibuat alami tanpa bahan pengawet, sehingga terasa enak.

“Bahan yang dibutuhkan itu sagu, daun nasi, kelapa parut, dan di-rau-rau di atas api. Untuk pembuatannya tidak terlalu rumit dan menu yang mau ditambahkan itu sesuka kami sendiri,” katanya.  

Menurut Yoku dengan membeli sagu di pasar Rp 10 ribu saja sudah bisa menghasilkan 10 hingga 15 bungkus sagu bakar. Kemudian ditambahkan kelapa, sayur, daging, atau lainnya.

Menurutnya sagu bakar ada lima macam dan memiliki nama masing-masing. Sinole adalah sagu yang dijemur dan digoreng menggunakan kelapa di wajan. Forno adalah sagu yang dibakar menggunakan tempatnya. Sagu yang dicampur pisang dan kelapa serta di kukus disebut Enggime Yanggofe. Sagu bakar isi sayur serta ulat sagu.

Menurutnya, agar sagu bertahan lama tidak dicampur kelapa. Sebab jika dicampur kelapa akan cepat basi.

“Tidak pakai kelapa itu bisa bertahan satu minggu dan yang mereka bikin kue itu bisa bertahan lama,” ujarnya.

Meski sangat paham cara memasak sagu bakar, Yoku ternyata jarang menjual sagu bakar. Padahal, katanya, dengan modal Rp 300 ribu saja beli sagu bisa menjual hasilnya ke pasar dan pembeli pun cukup banyak. Ia berharap anak-anaknya bisa menjadikan makanan lokal tersebut sebagai usaha agar sagu bakar tidak hilang.

Sagu ternyata juga sudah dijadikan bahan untuk usaha makanan ringan di Papua. Nur Zahit, perempuan 70 tahun asal Solo, Jawa Tengah in,i sudah menekuninya sejak 1991.

Nur sudah sejak muda tinggal di Papua. Ia terjun ke usaha ini setelah mengikuti pelatihan mengolah sagu menjadi kue kering yang diadakan Disperindag Pemprov Papua. Dirinya kemudian membuka usaha bernama “Akusa”. Dengan modal Rp 700 ribu waktu itu, ia mendatangkan mesin pengolah dari Jawa. Modal tersebut kredit lunak dari sejumlah BUMN melalui program pendidikan masyarakat.

Dari beberapa kelompok yang dibuat saat pelatihan, hanya dialah yang bertahan dengan usaha ini.

“Bahannya itu sagu sak-sakan dari pasar yang kami datangkan dan sampai di sini kami rendam lagi selama dua hingga tiga hari agar sagu itu benar-benar bersih, karena sagu yang dari pasar masih kotor airnya masih coklat, dari situ baru dijadikan tepung untuk bikin kue,” katanya.

Menurut Nur untuk membuat sagu menjadi kue tidak rumit. Yang dibutuhkan hanya kesabaran dan ketelatenan. Dalam sehari ia membuat kue dari 25 kg sagu. Ia tinggal membuat kue yang mulai habis di pasar.

Kue sagu “Akusa” dipasarkan di tiga toko di Jayapura, dua toko di Abepura dan Waena, dan di Bandara Sentani.

Harga kuenya per kg Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu. Harga ini tidak naik karena harga sagu juga stabil.

Kue sagu kering ini memiliki rasa bervariasi, seperti rasa coklat, selai kacang, nanas, madu, dan coklat kacang.

Nur mengatakan sebelum 2015 banyak pengunjung yang datang ke tempat usahanya untuk melihat proses pembuatan kue berbahan sagu dan membeli. Namun sejak 2015 mulai sepi.

Merry, warga Sentani yang sering membeli sagu bakar karena enak, meski jarang dijual di pasar.

“Kalau ada itu sudah pasti saya beli, soalnya sagu bakar yang dong pakai kelapa dengan pisang itu enak sekali, terus hangat-hangat, jadi kalau makan itu kenyang langsung,” ucapnya.

Ia berharap Mama-Mama asli Papua diberdayakan agar bisa menjual sagu bakar. Sehingga gampang mendapatnya di pasar. Dibanding kue dari sagu ia lebih suka sagu bakar tradisional.

“Orang banyak yang suka sagu bakar yang aslinya, maksudnya mama OAP dorang yang bikin, kalau bisa mereka ini diberi modal untuk kembangkan usaha kuliner makan khas sagu bakar ini, pasti orang banyak yang berdatangan ke tempat mereka bekerja situ,” kata ibu satu anak ini. (*)

Reporter :Yance Wenda
Editor : Syofiardi
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Pelayanan KTP-e tak berbelit-belit

Selanjutnya

Film pendek TBC garapan siswa SMA

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua