<
Show/Hide
  1. Home
  2. Lapago
  3. Pengembangan Daerah, Wari/Taiyeve diwacanakan jadi Ibu Kota Tolikara
  • Senin, 08 Januari 2018 — 05:43
  • 2806x views

Pengembangan Daerah, Wari/Taiyeve diwacanakan jadi Ibu Kota Tolikara

Bupati Usman G. Wanimbo (setelan krem) dan wakil bupati Dinus Wanimbo (kanan, depan) bersama Wakil Ketua I DPRD Tolikara Epius Obama Tabo (kemeja batik hijau, tengah) pada suatu kesempatan. -Jubi/Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - GAYUNG Bersambut, Kata Berjawab! Peribahasa ini rasanya cocok dengan sambutan baik dan dukungan Pemerintah Kabupaten Tolikara terhadap rekomendasi akhir tahun 2017 dari para wakil rakyat di DPRD Tolikara untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Karubaga ke distrik Wari/Taiyeve.

Pemerintah menilai distrik Wari/Taiyeve, yang berada di bagian utara Karubaga atau berbatasan dengan kabupaten Sarmi itu memenuhi syarat untuk dijadikan lokasi ibu kota yang baru bagi Tolikara.

Sementara Karubaga, yang telah menjadi Ibu Kota bagi Tolikara sejak dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya pada 2002 itu akan dikembangkan sebagai kota rohani. Khususnya, kota lahirnya Gereja Injili Di Indonesia (GIDI).

Hal tersebut ditegaskan Bupati Usman G. Wanimbo, Desember 2017. Menurut Usman, pemilihan Wari/Taiyeve menjadi pusat pemerintahan dan bisnis merupakan upaya pemerintah untuk mengembangkan wilayahnya dalam rangka meningkatkan dayaguna dan hasilguna penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pembinaan kemasyarakatan di Kabupaten Tolikara.

“Kami pandang perlu untuk pengembangan daerah dengan pusatkan pemerintahan dari distrik Karubaga ke distrik Wari/Taiyeve. Jadi, kita lakukan pengembangan menjadi salah satu daerah untuk tumbuh kembang kawasan. Dan, Karubaga tetap (dibangun) di situ. Karubaga akan menjadi pusat spiritual atau kota penginjilan, tapi pemerintahannya kita lakukan pengembangan ke Wari,” kata Usman kepada Jubi, di kediamannya di Sentani, Jayapura, Desember 2017.

Selama ini, pembangunan Tolikara difokuskan pada empat distrik: Bokondini, Kanggime, Mamit, dan Karubaga. “(Distrik Wari) demikian juga kita jadikan sama seperti itu, kita kembangkan distrik ini,” ujar Bupati.

Akses darat dan sungai

Usman Wanimbo, yang kembali memerintah untuk periode keduanya tersebut menjelaskan, selain jalan darat, salah satu keunggulan Wari/Taiyeve adalah memiliki akses jalur sungai yang bisa menghubungkan Tolikara dengan kabupaten lain, semisal Jayapura, yang diharapkan berdampak pada turunnya harga-harga sembako dan kebutuhan masyarakat lainnya.

Rute ini apabila terbangun, diharapkan dapat memotong daya tempuh barang-barang dari luar daerah. Sebut saja sembako, selama ini didatangkan dari Jayapura melalui Jayawijaya menggunakan pesawat udara, kemudian dilanjutkan jalan darat dari Wamena ke Karubaga.

“Bayangkan saja, berapa biaya yang keluar dari rute panjang itu? Tentu makan biaya dan waktu yang lebih lama. Kalau dari Wari, langsung lewat sungai masuk ke Tolikara dengan biaya lebih rendah. Dari sini baru kita distribusikan ke distrik-distrik, bahkan bila perlu ke kabupaten tetangga,” ucap Usman.

Mengutip Kompas.com, tingginya biaya pengangkutan menyebabkan harga kebutuhan pokok di Tolikara meroket. Harga gula pasir, misalnya, Rp 30.000 per kilogram, beras dengan standar Bulog Rp 20.000 per kilogram, satu bungkus mi instan Rp 4.000, dan tiga telur dijual seharga Rp 10.000.

Harga makanan di warung di Karubaga juga selangit. Menu ayam goreng Rp 50.000 per porsi, bakso Rp 25.000 per porsi, dan teh manis Rp 15.000 per gelas.

Kondisi ini sangat memberatkan warga yang bekerja sebagai petani. Yesina Jikwa, penjual sayur-sayuran di Pasar Kagome, hanya mendapatkan keuntungan Rp 50.000 per hari. Dari keuntungan itu, ia hanya mampu membeli 1 kilogram beras dan telur untuk dimasak.

Janda berusia 35 tahun ini sudah lima tahun berjualan di pasar. Apabila barang jualannya tak laku, ia bersama dua anaknya hanya mengonsumsi ubi jalar. Padahal, kedua anaknya masih berusia balita. "Dengan kondisi ekonomi seperti ini, saya sama sekali tak memikirkan untuk menyekolahkan mereka berdua," ujarnya.

Izin Jakarta

Dalam upaya pengembangan daerah tersebut, kedua penyelenggara pemerintahan ini tengah berjuang untuk mendapatkan, “izin dari Jakarta.” Pasalnya, sebagian besar kawasan Wari/Taiyeve merupakan daerah hutan lindung.

“Daerah ini, daerah paru paru dunia. Jadi mau tebang kayu harus izin Jakarta. Itu 98 persen, hutan lindung, hutan paru-paru dunia, maka Tolikara harus mengajukan permintaan 30 persen untuk budi daya supaya bisa pakai untuk bangun kantor-kantor pemerintahan dan sebagainya,” kata Usman.

Awal tahun ini, sejumlah langkah akan dilakukan dengan diawali pembentukan tim koordinasi dan tim survey distrik Wari. Tim ini nantinya melibatkan semua pihak terkait dari pemerintahan, legislatif, hingga publik.

“DPRD sudah mengusulkan langkah-langkah yang mereka akan lakukan yaitu membentuk tim koordinasi dan tim survey. Mereka sudah ajukan itu untuk pemerintah daerah. Surveynya akan dilakukan oleh instansi-instansi teknis seperti Bappeda, PU, Pemerintahan termasuk lembaga akademik seperti Uncen, sosilogi dan ahli ahli lain, termasuk orang-orang Jakarta akan dilibatkan,” jelas Wakil Ketua I DPRD Epius Obama Tabo.

Sekadar untuk diketahui, upaya membangun sebuah pusat pemerintahan dan bisnis suatu daerah membutuhkan waktu dan langkah yang panjang. Mulai dari persetujuan pejabat tinggi tingkat provinsi dan pusat, hingga melahirkan peraturan daerah yang menjadi dasar pembentukan dan atau pemindahan ibu kota daerah. “Untuk itu bisa memakan waktu sampai tiga tahun,” menurut Usman.

Masa pemerintahan pasangan Usman Wanimbo dan Dinus Wanimbo tersebut akan berakhir per 2021. Usman mengharapkan, akhir pemerintahannya dapat mewujudkan mimpi seluruh masyarakat Tolikara untuk memiliki daerah yang berkembang, dengan masyarakatnya yang sejahtera dan aman.

“Ya, mudah-mudahan terwujud sebelum (masa) berakhir. Kalau Tuhan menghendaki begitu, kita kerja dan kejar target itu. Memang ada yang juga tidak setuju, tapi suka tidak suka, mau tidak mau, untuk generasi kedepan harus di situ (Wari/Taiyeve),” tutup Usman. (*)

Reporter :Yuliana Lantipo
yuliana_lantipo@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Kepala distrik bantah pengungsian warga Balingga

Selanjutnya

90 persen Kepala Kampung Yahukimo belum laporkan penggunaan dana desa

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua