<
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Peringati Trikora, ini tuntutan mahasiswa Papua di Jawa
  • Selasa, 19 Desember 2017 — 23:27
  • 2595x views

Peringati Trikora, ini tuntutan mahasiswa Papua di Jawa

Aksi mahasiswa papua di Kota Semarang,-Jubi/ist

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Semarang – Jubi, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] se Jawa terdiri, dari Komite AMP Kota Yogyakarta, AMP Solo dan AMP Semarang-Salatiga meminta agar militer ditarik dari daerah asalnya. Tuntutan itu disampaikan saat menggelar aksi bersama memperingati Trikora, hari Selasa 19  Desember 2017, di Kota Semarang.

“Tarik Militer TNI-Polri  organik dan non-organik dari seluruh tanah west papua sebagai syarat damai,” ujar koordinator lapngan aksi, Adi Januarius, Selasa (19/12/2017).

Mereka juga menuntut kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri Papua. “Sebagai solusi demokratis bagi rakyat west Papua,” kata Adi menambahkan.

Menurut dia, Trikora yang ditetapkan Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961 sebagai awal  mobilisasi militer dan milisi ke Papua Barat. Kebijakan itu menimbulkan pembunuhan ribuan orang Papua yang ingin merdeka.

Adi menyebutkan pidato Soekarno tepat 66 tahun lalu di alun-alun utara Yogyakarta,telah menyatakan siap mengirimkan angkatan perang yang baru akan dilantik dari Bandung dan Magelang. Presiden pertama RI itu  menyiapkan 38 korps infanteri, 51 korps kavaleri, 59 korps artileri, 144 korps zeni yang kemudian dikirim ke Papua.

Ketua AMP Solo, Simon Degey mengatakan Trikora sebagai kebijakan illegal yang membubarkan Papua secara de facto dan de jure. “Trikora hanya sebagai alat kepentingan ekonomi imperialisme Amerika dan kepentingan politik Indonesia,” kata Simon.

Ia menuding sebelum dilakukan PEPERA 1969, tahun 1967 PT. Freeport sudah masuk. “Maka, Freeport harus ditutup. Karena Freeport adalah akar semua persoalan di Papua,” kata Simon menegaskan.

Sementara itu peneliti tim kajian Papua, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Andriana Elizabeth, menyebutkan negara belum mampu menyelesaikan persoalan integrasi di Papua yang tak hanya sosial, politik dan ekonomi. “Namun budaya dan HAM. Termasuk bisnis yangg tak bertangung jawab membuat orang Papua akan tersingkir,” kata Andriana, saat presentasi  seminar Tiga tahun pemerintahan Jokowi JK untuk Papua, di kantornya, Senin (18/12/2017)

Andriana menyarankan agar negara tak takut menggelar dialog dengan rakyat Papua. “Jangan takut dialoag, dialoag hal biasa. Kalau gagal kita coba lagi,” kata Andriana menjelaskan. (*)

Reporter :Edi Faisol
Editor :
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

BRI membantah tudingan diskriminasi penyaluran kredit

Selanjutnya

Kejuaraan sepak bola usia dini di Nabire ditutup

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua