<
Show/Hide
  1. Home
  2. Bali NTT
  3. Merariq; mencuri gadis dan peliknya pernikahan dini
  • Senin, 18 Desember 2017 — 17:52
  • 2276x views

Merariq; mencuri gadis dan peliknya pernikahan dini

Ilustrasi. Semiyaidom.ru/Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Lombok Tengah, Jubi - Lebaran 2016, Doni, warga Desa Barabali, Kabupaten Lombok Tengah, menculik Alma Mauli. Lilik Agustiningsih, guru mereka yang baru kembali mudik dari Banyuwangi, terkejut. Ia menyambangi kediaman orangtua Doni untuk tahu duduk perkaranya. Saat itu Alma sudah di kediaman keluarga Doni.

“Kami mau menikah, Bu,” demikian dalih keduanya seperti diceritakan kembali oleh Lilik.

Lilik berupaya mencegah perkawinan mereka. Kedua anak ini, berusia 15 tahun, masih berstatus pelajar madrasah Aliyah atau setara SMA.

Lilik bolak-balik memediasi. Semampu mungkin menggagalkan rencana nekat itu. Sampai suatu hari, ia ditawari sejumlah uang oleh pihak keluarga Doni untuk berhenti memperkarakan rencana hajat nikah sang anak. Padahal dari keluarga perempuan sudah setuju agar pernikahan ini dibatalkan.

“Saya tolak. Saya bukan mencari uang,” ujar Lilik.

Keluarga Doni bersikeras agar pernikahan segera dilaksanakan. Alasannya berkembang ke mana-mana: Alma hamil. Lilik menawarkan untuk memeriksakan Alma ke klinik yang akhirnya mereka tolak.

Menculik seorang perempuan untuk kemudian dinikahi, seperti yang Doni lakukan, dianggap "lumrah" terutama oleh masyarakat suku Sasak dari Pulau Lombok. Mereka menyebutnya merariq, artinya mencuri.

Tradisi ini dilakukan oleh pasangan yang ingin menikah. Sang pria akan menculik sang perempuan dalam semalam.

Dalam adat Sasak, tradisi merariq sebenarnya tidak bisa sembarang dilakukan. Ada sekitar 20 proses yang harus dijalani kedua calon mempelai sebelum menikah. Untuk sampai tahap merariq, kedua pasangan harus melalui proses perkenalan terlebih dulu. Itu pun harus via perantara.

Sementara yang terjadi sekarang, tradisi merariq telah mengalami pergeseran makna. Untuk melakukan merariq, saat ini mudah saja para pasangan membuat janji dengan berkomunikasi lewat ponsel pintar ataupun media sosial seperti Facebook. Mau tak mau, para orangtua harus menikahkan anaknya. Karena jika tidak, demikian menurut hukum adat, nama baik keluarga menjadi taruhan.

Pendidikan Doni dan Alma putus. Perjalanan rumah tangga mereka tak berjalan mulus.

Setelah pernikahan, Alma kerap mengadu. Menerima kekerasan dari suaminya. Bahkan Alma sempat ditalak secara agama oleh Doni, meski kemudian rujuk lagi.

“Kalau nanti dia (Doni) menalak kamu lagi, kamu jangan mau rujuk. Kamu itu punya hak atas dirimu sendiri,” kata Lilik, yang tergabung dalam Koalisi Perempuan Indonesia untuk urusan kelompok kepentingan perempuan petani di NTB, mewanti-wanti Alma yang sudah memiliki seorang anak.

Mekarnya praktik merariq yang disalahartikan memicu banyak persoalan. Seperti angka perceraian, pendidikan terhenti, malnutrisi bayi, hingga kekerasan dalam rumah tangga.

Dari Laporan UNICEF dan Badan Pusat Statistik yang dirilis pada awal tahun 2016 berjudul “Kemajuan yang Tertunda”, pada 2012 ada 32.253 remaja NTB yang menikah antara usia 15-19 tahun, atau sekitar 16,3 persen dari jumlah pernikahan di provinsi tersebut.

Melihat angka memprihatinkan ini, Koalisi Perempuan Indonesia bersama Lembaga Perlindungan Anak dan sejumlah pemangku kepentingan terkait menyusun awig-awig. Dalam bahasa Sasak, awig-awig berarti aturan ataupun kebijakan yang berlaku di tingkat dusun maupun desa. Hukum lokal ini disusun melalui musyawarah pejabat setempat yang didampingi Koalisi Perempuan dan lembaga terkait.

Ada sanksi-sanksi sosial dalam rumusan awig-awig yang berlaku berbeda di tiap daerah mengingat tiap daerah maupun kawasan di NTB memiliki tradisi dan karakter masing-masing.

Di Lombok Tengah, Awig-awig untuk menekan angka perkawinan anak memiliki sanksi sosial berupa: 1) Pengantin pria tidak diarak (nyongkolan), 2) Acara menyambut pengantin pria (nanggep) di kediaman pengantin perempuan tidak akan dihadiri 3) Tidak ada lagi banjar, artinya pengantin tidak diberi sumbangan barang pokok.

Awig-awig di Lombok Tengah baru efektif berlaku setahun ke belakang dan menyentuh lima desa di kabupaten ini: Desa Pagutan (Kecamatan Batukliang), Desa Pengenjek dan Desa Batu Tulis (Kecamatan Jonggat), Desa Mertak Tombok (Kecamatan Praya), dan Desa Sengkereng (Kecamatan Praya Timur).

Merariq bukanlah satu-satunya penyebab perkawinan anak. Permasalahan klasik seperti masalah ekonomi keluarga juga ikut memicu fenomena ini.

Dari data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI, Nusa Tenggara Barat menduduki peringkat keempat sebagai provinsi pemasok buruh migran tertinggi se-Indonesia dengan angka 31.931 jiwa. Hampir 9 ribu di antaranya berasal dari Kabupaten Lombok Tengah yang menempati posisi kelima kabupaten/kota dengan buruh migran terbanyak.

Aktivis Hak Asasi perempuan, Musdah Mulia, mengusulkan pada Pimpinan DPR untuk merevisi Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yang berkaitan dengan batas usia menikah.

Sebab dalam Pasal 7 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan mencantumkan batas usia menikah bagi perempuan adalah 16 tahun dan pria 19 tahun.

"Batas usia pernikahan (di Indonesia) usia 16 mengerikan itu. Harus revisi Undang-Undang Perkawinan dan juga setop perkawinan anak. Presiden ngomongin begitu," kata Musdah pada Agustus lalu.(*)

Sumber: Tirto.id/ Merdeka.com

 

Reporter :
Editor : Syam Terrajana

#

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Shabu, sanksi dan pilot yang lelah

Selanjutnya

11 awak kapal pencuri ikan asal Tiongkok dipulangkan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua